Reog Ponorogo di Hari Studi APTIK| WIMA MADIUN

Untuk memberikan suguhan yang khas madiun kepada para tamu undangan Hari Studi APTIK, Universitas Widya Mandala Madiun menyugguhkan kesenian khas Jawa Timur yaitu Reog Ponorogo.

Alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Perjalanan Raja Ponorogo Prabu Kelana Sewandana yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan.

Luarrrr Biasaaa…. tarian yang sungguh mempesona, sebenarnya kalo saya bilang lebih tinggi dari sebuah tari karena mengandalkan kekuatan fisik dan kekuatan batin.  dentuman gamelan membuat suasana menjadi begitu mistis. Irama gamelan yang konstan, ditambah dengan suara kendang yang memberikan warna semangat, sesekali mengalun suara terompet ponorogo yang menambah riuh.

Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para Pria besar ini disebut dengan warok, tarian warok ini menggambarkan para pria perkasa yang berlatih ilmu kesaktian. Selama mereka berlatih ilmu kesaktian terdapat pria yang berperawakan tua terlihat bijaksana, tetua ini mondar-mandir kesana kemari. Seolah-olah mereka sedang memberikan pelajaran ilmu kesaktian pada para warok-warok perkasa ini.
Tarian berikutnya dimulai dengan liuk-liuk gemulai dari para gemblak. mereka melambaikan selendangnya dengan terlihat sangat centil sekali. Gemblak-gemblak ini menari diatas kuda lumping dan sering sekali tarian ini disebut dengan ‘jaran kepang’. Seseorang di sebelah saya berkata, dulunya para penari ini adalah laki-laki yang berparas ganteng. konon para gemblak ini meruparakan pasangan dari para warok,  Gemblak dan warok merupakan pasangan untuk memperoleh atau menjaga kesaktian yang dimiliki. Namun karena perkembangannya, sekarang Gemblak ini diperankan oleh para gadis-gadis.

Singabarong di hempas-hempaskan kesana kemari dengan gigitan dari si penari. menurut perkiraan saya, berat Singabarong hampir mencapai 50 kilogram. Sebutan untuk topeng besar Singabarong adalah dadapmerak. Singabarong ini terdapat kepala singa yang terlihat sangat menyeramkan diatasnya terdapat burung merak dan sekelilingnya penuh dihiasi dengan bulu-bulu burung merak yang disusun sangat indah. terlihat begitu seram perkasa namun juga indah dengan hiasan bulu merak dan warna-warni hiasan yang menambak semarak.

Bujanganom wakil dari Raja Ponorogo yang konon begitu ganteng, namun karena diutus untuk melamar Sang Putri dari Kerajaan Kediri, dia merelakan wajahnya itu untuk dirusak supaya Sang Putri tidak tertarik padanya. sangat besar pengabdian Bujanganom pada Rajanya. Tarian akrobatik dari Bujanganom sangat memukau. Dia dapat salto berkali-kali, dengan sekali lompatannya dia dapat memperlihatkan dia berputar di udara. Kelincahan dari Bujanganom ini mendapat perhatian spesial dari penonton. Setiap atraksi Bujanganom mendapat respon luar biasa, setiap salto Bujanganom diakhiri dengan sorakan histeris. ‘heeeeeaaaa’ pekik riuh penonton.

Di akhir cerita, Bujanganom melawan Singabarong. Dengan susah payah bujanganom mengeluarkan seluruh kemampuannya, namun dia terkapar jatuh di hempaskan Singabarong. Sekali lagi pemain Singabarong menunjukan kekuatannya, dengan menghempaskan dan mengangkat dadapmerak dengan cara ‘ngayang’. Dipikiran saya ‘wah apa gigi dan tulang belakangnya remuk ga yah?’. Bujanganom yang tidak dapat mengalahkan Singabarong kembali dan memohon kepada Rajanya untuk membantu. Rajapun geram, ditendangnya Bujanganom.  Dengan kemaharan Rajapun menghadapi Singabarong, berbagai jurus dia gunakan namun masih saja kalah. Kali ini Raja menggunakan sejata yang berupa cambuk. Sekuat tenaga dia mencambuk kedua Singabarong itu, dan akhirnyapun Singabarong tertunduk kalah kepada Raja.

Budaya yang luar biasa, jangan sampai lepas ataupun dijiplak oleh tangan-tangan yang kepingin tapi ga mampu. hahahahha… pisss….

Pranala:

http://id.wikipedia.org/wiki/Reog_(Ponorogo)

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0410/15/tanahair/1266679.htm


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

AddThis Social Bookmark Button

2 Responses to “Reog Ponorogo di Hari Studi APTIK| WIMA MADIUN”

  1. Arjun Malo di Banten Says:

    ” REOG”…. jelas budayane dewe, mulo kudu dijogo terus ojo sampek di jukuk Malaisia. Mulo sebagai bocah enom, Generasi bangsa kabeh kudu mbudidayakne Reog, ora usah isin maen reog….. lek iso Reog yo ojo omben-ombenan….sebab hal ini juga ndadekne fatal neng fisike awake dewe,….. Matur suwun

  2. Hi. I like the way you write. Will you post some more articles?

Leave a Reply